Part 2
“Hei bro.. kenapa kau mendekati wanita tadi?” tanya Kahfi penasaran.
“Lebih baik kau tak usah ikut campur dengan kejadian-kejadian yang menimpaku, serta jangan kau pernah dekati wanita tadi!” ancam temannya.
“pasti ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku!” ungkap hati Kahfi setelah mendengar temannya seperti itu.
Sesampainya mereka di rumah masing-masing Kahfi yang tiba duluan dirumahnya melihat seisi rumah berantakan kaya kapal pecah yang tak pernah dibereskan. Selama berbulan-bulan makanya setiap ada tugas kelompok teman-temannya tak mau ke rumahnya. Karena kalau ke rumahnya mereka harus beberes terlebih dahulu sebelum mengerjakan kecuali kamarnya yang bersih tertata rapi tak ada satu pun barang yang tergeletak di lantainya.
Di kamarnya ia langsung mengunci pintu serta membuka laptop dan mengirimkan e-mail kepada seseorang. Tiba-tiba handphonenya berdering.
“kring..kring”
“iya pak.. saya belum bisa mencari orang-orang yang dikirimkan bapak, mungkin sebentar lagi saya dapat menemukan orang itu!” tegas Kahfi mantap.
“segeralah kirim identitas lengkapnya bila kau sudah menemukan orang itu!”kata suara ditelpon seraya menutup kembali teleponnya.
Kahfi melihat sebuah pesan e-mail dari temannya itu.
“Fi,,, aku dapat informasinya.. ia berada di kampus technology sebulan yang lalu..cepat kau kesana!”by Gilang
Mentari sudah bersinar terang saatnya Kahfi beraksi untuk melaksanakan tugasnya. Sebelum pergi ia melihat temannya mengacuhkannya, ia mengayuh sepedanya dengan secepat mungkin untuk mengejar mobil temannya sambil berteriak
“Bro.. tunggu aku!”
Secepat mungkin temannya langsung menghentikan mobilnya seraya membuka kaca mobil.
“Hei fi, jangan bilang aku bro.. bro.. aku punya nama tahu fi!” jelasnya.
“tetapikan nama panggilan itu bagus untukmu, kaya di film-film!” tutur Kahfi tersenyum
“yang penting aku tak ingin lagi mendengar sebutan panggilan itu.. kurang bermutu!” tegasnya.
“kalau gitu aku harus panggil kamu apa? Ali.. Nail.. atau Ibrahim!” kata Kahfi masih berfikir
“terserah..!” ucap Nail menancapkan gas mobilnya dan pergi meninggalkan Kahfi
“Nail..! ya ilah cuman bercanda aja! Ia malah ninggalin gue!” ujar Kahfi sambil mengayuh sepedanya.
Setibanya Kahfi di kampus ia langsung bertemu dengan temannya gilang.
“Gilang.. apa kau sudah menemukan orang yang kita cari?” tutur Kahfi seraya berhenti mengayuh sepedanya.
“Belum fi.. aku ragu bila langsung menyimpulkannya”
“kamu ini.. bagaimana sih” ketus Kahfi
“Hei fi, masuk dulu mobilku. Aku mau memberikan sesuatu untukmu!” ajak Gilang.
Mereka pun masuk mobil
“Apa yang akan kau berikan untukku!”
“ini.. “ (memberikan kotak khusus kacamata)
“Ada apa dengan kacamatanya?” tanya Kahfi heran.
“Aku sudah membuat ini untuk mengetahui seseorang itu!”
“Kegunaannya apa?”
“ini dapat mendeteksi dimana ia berada”
“kenapa tidak kau saja yang memakainnya”
“ini cocok untukmu! Karena kau seorang playboy yang cerdas, betulkan?’ goda temannya
“baiklah! Kita berpencar anggap kita tidak pernah saling kenal!”
Mereka pun turun dari mobil dan memulai misi pertama mereka
Kahfi berjalan ke kampus dengan penuh gagah berani, mempesona membuat semua wanita di kampus tertarik padnya. Ternyata, di kampus itu ada temannya Kahfi. Ia mencoba bersikap biasa saat melihat Nail.
“fi, apa kau kuliah juga disini?” tanya Nail
“hmmm… ya, aku baru pindah ke kampus ini, kita memang teman sejati ya. Selalu bertemu dimana saja!” canda Kahfi.
“Jaga sikapmu fi..!” sinis Nail
“Kita bicaranya nanti saja. Aku ingin lihat wanita menarik untuk kujadikan pacar!” goda Kahfi pada Nail agar tersenyum.
No comments:
Post a Comment