Friday, May 17, 2019

PART 27

PART 27

Kahfi yang masih kritis memimpikan dirinya bersama ayahnya saat berumur 13 tahun yang lalu.
“walau aku masih berumur 13 tahun. Aku tahu ayah dalam keadaan bahaya. Aku tak ingin mengikuti permintaan ayah untuk diam saja. Aku tak ingin kehilangan ayah. Aku harus menyelamatkan ayah bersama adikku anita!” ucap kahfi dalam hati sembari mengayuh sepdanya secepat mungkin ke lapangan baseball.
Sebelum sampai disana ia melihat nail dipukuli dan hampir ditembak. Ia memberhentikan sepedanya dan melawan orang-orang yang begitu besar darinya.
Tetapi, ia tak merasa kecil untuk menghadapi mereka dengan kemampuannya. Ia melakukan sebisanya walau ia terluka di bagian tangan kirinya.
“ayo cepat pergi dari sini sebelum mereka datang lagi!” pinta kahfi pada nail seraya mengayuh sepedanya lagi. Saat kahfi sampai di lapangan baseball. Ia baru sadar ayahnya sudah meninggal dunia.
“ayah..ayah kenapa begitu cepat meninggalkan aku dan dimana bunda yah. Apakah dia juga sudah meninggal ataukah masih hidup? Panggil kahfi menahan tangisnya melihat ayah sudah tak sadarkan diri lagi dan tak menjawab pertanyaan kahfi.
“sudah kak, ini bukan salah kakak. Tapi, ini salahku yang tak mengikuti nasihat ayah tadi!” kata anita menitikkan air mata.
“tidak, ini bukan salah kakak ataupun anita. Tapi, ini salah bimo yang seharusnya tak melawan mereka terlebih dahulu. Pasti ayah takkan mati. Andai aku seorang dokter mungkin ayah masih diselamatkan!” jawab bimo menangis.
Kahfi memeluk mereka berdua. “sudahlah, mungkin ini sudah takdir dari Allah. Tetapi, perjuangan ayah takkan sia-sia. Ia menyelamatkan berkas para koruptor untuk kita bawa ke pengadilan nanti dan membongkar semua itu dihadapan publik.!” jawab kahfi mencoba tegar dihadapan mereka.
“seharusnya ayah dari dulu tidak mengangkat kami berdua sebagai anaknya. Mungkin jika itu terjadi kami tidak menyusahkan ayah dalam pekerjaan apapun!” kata bimo.

“tidak bimo dan anita. Keluargaku takkan pernah menyesal mengangkat kalian berdua sebagai anak dari bagian keluarga ini. Kakak justru senang mempunyai kalian sebagai adik penurut dan penyayang!” ucap kahfi sembari melepaskan pelukan dari adik-adiknya dan jatuh pingsan.

No comments:

Post a Comment

Suka dalam Diam

Senyumannya masih terbayang dalam fikiranku. Senyum manis yang tersirat ketika ia bertemu denganku. Ketika bersama dengannya jantungku berde...