PART 4
Ketika Kahfi keluar dari kelasnya. Seorang lelaki menabrak Kahfi dengan sengaja hingga terjatuh ke bawah. Seorang lelaki itu pun keluar tanpa mengucapkan minta maaf. Ia pergi begitu saja. Tanpa disadari bahwa alarm kacamatanya berbunyi saat lelaki tadi menabraknya.
Buru-buru Kahfi mengejar pria tersebut. Namun, sungguh disangkan kahfi kehilangan jejaknya. Segera kahfi menghubungi temannya gilang. Tetapi, handphonenya tidak dapat dihubungi hingga ia berlari menuju kantor dosen untuk menemui temannya.
Nail menghampiri natasya dengan wajah yang memerah ketika bertemu dengannya.
“tasya, mengapa semenjak kejadian itu. Kau seperti menjauhiku? Kenapa kau tak ingin menerima cintaku?” tuturnya lembut
“ya, aku menjauhimu karena aku benar-benar tak kenal kamu! Oh ya, soal cincin itu aku akan kembalikan padamu nanti! Sungguh cincin itu membuat aku serba salah sebab cincinnya tidak dapat kulepaskan!”jelas natasya dengan cemberut.
“sebaiknya kau pakai saja di jarimu itu. Mungkin, suatu saat nanti kau akan mengerti dan akan mengenalku lebih jauh lagi!” kata nail dengan tatapan serius.
“dasar kau cowok anek!”pergi meninggalkan nail dengan rasa penasaran.
Sesampainya kahfi diruang dosen, gilang sudah tidak ada di tempat membuat Kahfi marah kenapa temannya pergi begitu cepat. Tak tahukah ini adalah tugas penting yang diperintahkan atasannya.
Kriing.kriing handphone kahfi berbunyi
“fi, kau dimana?kalau aku sedang mengejar pra itu. Tetapi, aku kehilangan jejak diperempatan, belum sempat melihat wajahnya dan belum sempat aku mengejarnya ia sudah berlari entah kemana!” jawab gilang
“aku masih di kampus! Kenapa kau tidak bilang padaku. Tadi mungkin aku dapat mengenalnya! Akh.. kau ini sungguh tak setia kawan lagi” menutup handphonenya dengan rasa kecewa juga marah.
Laura dan natasya yang sedang asyik berjalan berdua. Tiba-tiba ada kahfi yang menghalangi jalan mereka.
“minggir kau! Aku dan laura mau jalan! Bentak natasya
“dasar cewek, giliran jalan dilurusin, kalau giliran hati ditendang!” polos kahfi
“kau ini ngerayu atau buatku naik darah!” sinis natasya menatapnya tajam.
“sudahlah tasya, dia kan bicaranya baik-baik bukan sambil marah-marah! Ayo kita pergi dari sini!”pinta laura pelan sekali.
Kahfi juga pergi meninggalkan mereka sambil mengayuh sepedanya dengan rasa bingung tentang pria misterius itu.
“kenapa bos menyuruh tim kami yang menyelidikinya? Kenapa tidak dengan tim lain yang sungguh hebat dalam mengatasi semua masalah, mentang-mentang tim kami masih junior kali!” pikir hatinya.
Di jalan perempatan ada seorang wanita yang meminta pertolongan kahfi. Ia tanpa fikir menyuruh wanita itu naik ke sepedanya.
“kenapa nona ada di jalan perempatan seorang diri? Tidak baik bila nona sendirian! Apa yang terjadi pada nona?”tanya kahfi masih mengayuh sepedanya.
“bisakah kamu berhenti sebentar disini? Balik tanya nona tersebut pada kahfi.
“bukankah kita baru setengah perjalanan dari perempatan. Ya sudah jika kau tak mau berhenti aku saja yang akan berhentti!”
“ya. Ya aku akan berhenti”kata kahfi seraya memberhentikan sepedanya.
“bolehkah kau ikut aku sebentar untuk ke suatu tempat! Ajak nona itu
“boleh, tapi kemana kau akan mengajakku?”
Mereka pergi dengan jalan kaki, kahfi meninggalkan sepedanya. Sesampainya mereka di taman, nona tersebut menyuruh kahfi duduk sambil mengajak bicara.
“sebenarnya aku ditinggalkan oleh kekasihku di perempatan ia pergi begitu saja sampai-sampai aku tidak bisa berdiri lagi. Aku ingin kaulah yang menjadi pendamping hidupku selama ini!ucap nonan itu memegang tangan kahfi
Kahfi kaget mendengar perkataan itu, itu terucap begitu tiba-tiba oleh seorang wanita kedepannya.
“kenapa tiba-tiba kau berbicara seperti itu? Apa yang sedang nona fikirkan sekarang? Aku sungguh tidak mengerti dengan maksud nona ini! Tanya kahfi heran
No comments:
Post a Comment