Sejatinya, kisah kenangan itu terjadi di KKN memang benarlah adanya. Hingga, kenangan itu masih membekas dalam memori ingatan. Kisah dimulai ketika percobaan masker dimulai. Awalnya hanya melihat Iki ketika dimaskerkan oleh Net. Namun, ketika bercandaan dari Net itu dimulai hati itu beralih.
“Cieeee,, dilihat terus wajahnya,” canda Net
“Siapa lagi yang ngelihatin. Aku kan hanya melihat cara memakaikan maskernya aja biar bisa dipakai gitu,” balas Nyi
“Gak apa-apa sih kalau bener ngelihatin juga. Cinta di KKN memang benar nyata gengsss,” kata Fi ikut bercandain Nyi dan Saputra.
Saputra pun tersenyum lebar saat sedang dimaskernya.
“Tuh Nyi Saputranya tersenyum karena Nyi benar-benar di hatinya,” tawa Net sambil merekam Nyi yang tersenyum ketika dibercandain oleh teman-temannya.
Setelah selesai di maskernya bercandaan teman-temannya masih terngiang dalam hati Nyi dan Saputra. Di grup KKNnya temannya mengubah foto profil grup dengan foto Nyi dan Saputra. Semakin saja bercandanya tuh memanas di hati mereka.
“Wadidaw,” kata Nyi saat melihat foto profil grupnya diganti dengan foto mereka berdua.
Saputra mengirimkan foto Nyi ke grup yang sudah diedit dengan tulisan Nyi dan Lalat Ajaib
Dari situlah Nyi yang tadinya gak anggap serius bercandaan Saputra jadi kebawa perasaan terus. Karena Saputra yang memulai hal itu terjadi hingga membuat Nyi tidak bisa mengendalikan dirinya kalau dirinya suka dengan Saputra.
Beberapa hari kemudian Nyi dan Saputa saling kode-kodean gak jelas di grup maupun saat ketemu langsung.
“Sekarang Nyi sudah bisa kode sekarang. Hasil dari sekamar kita bertiga guyss,” timpal Fi membuat rame grup
“Bukan kode tapi to the point. Karena, cowok tak bisa dikode harus to the points,” balas Nyi dengan senyum menyembunyikan rasa sukanya.
Setelah bercanda selesai Nyi dan Saputra pun tertidur. Mereka yang belum tidur ngebicarain mereka berdua di grup.
“Nyi sudah dialam mimpi. Nyi dan Saputra bakal ketemu di pulau kapuk,” timpal fi dengan bercandanya.
Entah apa yang dibenak Saputra saat itu. Nyi merasa kalau Saputra ada rasa padanya. Dengan tingkah anehnya di grup dengan stiker yang sering berubah-ubah ketika Nyi membalas respon di grup atau mengajak di grup buat makan bersama.
Akhirnya, ketika mereka berdua diberi kesempatan untuk pergi bersama ke acara workshopnya. Entah disana ada hal yang berbeda di wajahnya Saputra. Nyi merasa Saputra cuek sekali. Sampai-sampai kalau mau jalan aja ditinggalin. Dianya udah marah-marah gak jelas lagi.
“Kenapa gak sama Iki aja deh Nyi? Kan dia bawa motor biar bareng gitu sama Bil Bil,”
“Lha, kan merekanya juga gak mau. Kalau dipaksakan juga kan gak bener juga. Sekalian ngebuktiin aja bener gak ada pupuk organik yang udah dikemas,” balas Nyi sudah merasa ingin pulang gak mau sama Saputra jalan lagi.
Akhirnya, selama perjalanan Nyi dan Saputra diam-diaman. Ketika mau pulang ke kosan Nyi tak bawa uang lagi. Dia pinjam uangnya Saputra. Jadi, itulah awal ngobrol kembali mereka berdua.
“Aku pinjam uang ya, nanti aku ganti,”
“Ya, ini uangnya pegang dulu di kamu,” kata Saputra memberikan uang 5000 di angkot.
“Mau turun dimana Nyi?,”
“Deket Ciseke saja. Mau langsung ke asrama Saputra?,’
“Ya, langsung,”
“Aku duluan ya,”
“Hati-hati,”
Itulah selama perjalanan yang mereka berdua obrolin. Dari sanalah perasaan baper Nyi berubah menjadi tak ada kata baper selain hanya untuk Allah. Disanalah Nyi belajar agar tidak membawa perasaan karena semua itu hanya candaan semata untuk menghibur agar KKN menjadi lebih seru.
Hingga setelah selesai KKN Nyi dan Saputra bertemu kembali. Sebelum datang teman-temannya. Saputra yang memberitahukan rahasia tentang identitasnya sebagai angsawan yang tiba-tiba diinvite grup oleh Lif.
“Oh, ternyata kamu toh Angsawannya. Dugaanku benar. Mana mungkin Lif sih!,” kata Nyi tanpa bawa perasaan lagi.
“Hehe, ya. Sempat dikeluarkan dari grup-grup dengan nama itu,”
“Ya, jelas namanya kan gak dikenalinlah,”
“Itu kan berasal dari bangsawan jadi ditulisnya angsawan aja,”
“Dasar Angsawan!!,”
“Doain aja biar kita masuk sepuluh besar dan bisa menjadi juara satu agar program desanya keberlanjutan dan dibiayain,” kata Saputra.
Terkadang Nyi bingung dengan perkataannya Saputra yang labil dan plin plan. Bukankah dia yang ingin mengakhiri kisah desa keberlanjutannya? Tetapi dia yang menginginkan keberlanjutannya?

