Sunday, May 5, 2019

Part 12 Playboy Mencari Musuh


PART 12

Gilang teringat ucapan kahfi sebelum dia pergi  “kamu pasti tahu akan apa yang terjadi di masa laluku. Makanya kau menyembunyikan kejadian-kejadian yang kualamikan! Katakan gilang sejujurnya. Apa yang terjadi setelah aku jatuh pingsan? Jawab yang sejujurnya bila kau menganggapku sebagai temanmu!” tanya kahfi sembari menarik baju gilang.
“aku tahu yang terjadi di masa lalumu. Aku menyembunyikannya demi misi kita agar berjalan lancar. Toh dulu kau tak ingat kejadian itu!”
“dasar bodoh.. gue selama ini hanya dimanfaatkan oleh kalian semua. Tanpa tahu perasaanku bagaimana selama ini. Rasanya hatiku tertusuk duri yang tajam menyayat hatiku hingga terluka.. mengapa kau melakukan semua ini? Siapa yang menyuruhmu
“gue lakukan semua ini demi demi misi kita fi@! kau begitu pintar melakukan semua misi. Apalagi ibu victoria yang mengancamku agar kau tetap menjalani misi dan tidak menceritakan kejadian masa lalumu itu”
“gue sudah tidak peduli lagi dengan misi ini. Lebih baik gue keluar dibandingkan gue bersama kalian yang begitu busuk sifatnya. Gue kira sudah cukup pembicaraan kita. Pastinya michelle ada di tnagn victoria. Sekarang atau seterusnya kau menjauh dariku. Gue tak ingin bertemu denganmu atau juga kalian semua yang telah mengacaukan hidupku selama ini!”jelas kahfi seraya melepaskan bajunya gilang dan mendorongnya.
Gilang menghela nafas setelah mengingat ucapan kahfi yang menyakitkan. Ia pun berkata dalam hatinya. Maafkan aku fi, aku sudah mnyembunyikan itu semua darimu dan demi misi ini aku rela melakukan segala cara agar kau kembali dalam misi ini. Karena aku tak ingin kehilanganmu sebagai kak senior terhebat.”
“sudah hampir sore tasya. Kahfi belum datang ke kampus juga apa dia tak ingin kuliah gitu?” bisik laura menyakan kahfi.
“apa-apaan sih bisik-bisikan ngak enak tuh dilihatin pak dosen. Lagipula aku tak punya hubungan dengannya. Mengapa kau menanyakannya padaku?”
“sebab kau juga dekat dengannya kan?” tasya tak sanggup berkata lagi wajahnya memerah ketika laura memojokkan perkatan dengan kahfi.
Kelaspun berakhir waktunya tasya untuk pulang ke rumah tanpa diganggu kahfi ataupun nail. Seseorang memberhentikannya jalan tasya. Ia menoleh ke belakang ternyata itu pak saeful.
“ada apa pak meman:ggil saya?”
“tadi di kelas saya tidak melihat nail. Kemana dia?” tanya pak saeful.
“tidak tahu pak. Daritadi saya tidak bersamanya. Mungkin dia ada di rumah.
“oh kalau begitu bapak duluan dan terimakasih atas informasinya!” sahut pak saeful singkat.
Pak saeful pun pergi setelah diberiatahu tasya. Ia menghela nafas.  Dalam hatinya tasya “kenapa ya semua orang menanyakan teman-teman yang tidak aku kenal seperti orang aneh itu dan si playboy. Memangnya cuman aku saja gituh teman dekat mereka!
Laura menghampiri tasya dengan rasa heran
“ada apa sih, melamun saja deh. Tuh ayahmu sudah menjemputmu. Sana pulang!”
“mm.. tidak kok laura. Aku tidak melamun aku hanya berfikir sejenak. Melantunkan sebuah kata yang tidak bisa aku tebak! Akh ya ya. Oh ya jangan lupa besok ke rumahku!”
“ya, kalau aku lupa callinh caliing saja aku. Handphoneku siap kapan saja! Jawab laura penuh semangat.

No comments:

Post a Comment

Suka dalam Diam

Senyumannya masih terbayang dalam fikiranku. Senyum manis yang tersirat ketika ia bertemu denganku. Ketika bersama dengannya jantungku berde...