Wednesday, May 15, 2019

PART 26

PART 26

Sesampainya michelle kembali ke kampus. Ia melihat ruangan kelas sudah kosong. Ia juga melirik ke bawah lantai.
“darah. Jangan-jangan ini darahnya kahfi. Tapi, ia dimana sekarang?”ucap hatinya michelle.
Tiba-tiba ian datang menodongkan pistol ke kepalanya michelle.
“ian.. apa kau ingin membunuhku dengan pistol ini?” tanya michelle menatapnya tajam
“sebaiknya kau menyerah saja. Kerjamu membuat aku muak. Kamu tahu gara-gara kamu kahfi berani mmelawan kita. Rekan kerjanya sendiri. Apalagi, dia menyelamatkan nail saat aku menembak ke arah nail.” jawab ian sinis.
“apa? Kau tega melakukan itu pada temannya. Kau gila ian!” bentak michelle sambil menodongkan pistolnya pada ian.
“oh, gini cara rekan kerja membunuh rekannya sendiri!”
“tidak.. jika kau tidak membunuhnya!”
“bukankah misi kita selama ini adalah membunuh temannya kahfi dan merebut semuanya darinya. Agar ia tidak menghalangi jalan kita untuk membawa tasya dalam menghancurkan ayahnya sendiri atau membunuhnya!’ tegas ian.
“aku tidak setuju dari awal rencana ibu victoria itu kejam. Itu artinya pertumpahan darah sesama keluarga. Kenapa tidak laporkan saja ayahnya tasya ke kantor polisi daripada pertumpahan darah itu terjadi.
“jika kita laporkan ke polisi mungkin ujung-ujungnya uang untuk menyogok aparat penegak hukum dalam segala hal agar tidak masuk ke penjara. Sama saja hidupku dan hidup kakak gue hancur begitu saja untuk kedua kalinya. Kamu tahu betapa hancurnya aku selama ini terus diancam dan hampir dibunuh!” tutur ian melepaskan tembakan ke arah michelle.
Seseorang membawa michelle agar tidak tertembak. Tembakan ian meleset ke arah tembok kelas hingga berlubang.
“lebih baik kau hentikan semua ini. Pertengkaran tidak akan menyelesaikan masalah. Apalagi kalau masalah tentang pembunuhan itu buat aku merinding. Michelle dan uga ian berapa banyak orang suruhan pak darma untuk menghancurkan kita semua. Kalian tahu pak darma melakukan ini semua demi uangnya dan demi harga dirinya!” tegas gilang
“kenapa semua orang membela kahfi. Tak tahukah hatiku ini sakit mendengar semua itu!” seru ian marah.
“aku tidak membela siapapun. Aku ingin sesama rekan kerja menjadi sahabat dan saling tolong-menolong. Serta kita dapat menghancurkan ketidakadilan di dunia ini. Bila bisa kita tuntaskan semua kasus besar terkait korupsi ini yang menimbulkan banyak korban.!” tegas gilang lagipada mereka berdua.
“aku pegang janjimu gilang. Awa bila kalian berkhianat kepadaku. Aku tak akan segan membunuh kalian berdua dengan tanganku sendiri.” ancam ian menyetujui permintaan gilang.
“ayo kita pergi dari sini dan menyusul ke rumah nail untuk melihat kondisi kahfi sekarang.” ajak gilang pada mereka berdua untuk naik mobilnya.

No comments:

Post a Comment

Suka dalam Diam

Senyumannya masih terbayang dalam fikiranku. Senyum manis yang tersirat ketika ia bertemu denganku. Ketika bersama dengannya jantungku berde...