Wednesday, May 15, 2019

PART 24

PART 24

“hei fi, lo kan yang ngasih permen permanent itu ke laura? Hingga dia ingat semuanya! Lo kan tahu permen itu untuk tasya agar ia sembuh kembali ingatannya. Dasar lo ngak tahu diri!” bentak nail seraya menarik baju kahfi.
“bukan gue nail yang memberikannya. Mana aku tahu dia pernah memakan permen itu!” tegas kahfi.
“woy. Berhenti napa saling tuduh-tuduhannya. Memangnya, kalian ngak malu dilihatin orang di kampus?” bentak bimo pada kahfi dan juga nail sambil memisahkan mereka berdua.
Datanglah ian disana sambil berkata sinis
“gue yang mencuri kotak itu di rumahmu! Gue juga yang memberikan isi dalam kotak itu pada laura! Puas kalian!” ucap ian seraya menodongkan pistol pada mereka bertiga.
Door..door suara tembakan menembus badan kahfi. Lagi-lagi nail ditolong oleh kahfi. Ian berlari sesudah menembak rekan kerjanya sendiri. Hari itu juga suara handpone nail berdering dan berkata nyolot padanya.
“jika kau ingin laura dan tasya selamat. Datanglah kesini membawa kahfi!” ancam orang ditelpon seraya mematikan handponenya.
“kak, kau harus dibawa ke rumah sakit sekarang juga. Kakak sudah kehilangan banyak darah!” pinta bimo pada kakaknya.
“fi, maukah kau ikut denganku. Tadi ada orang yang menelponku dan mengancam tasya serta laura bila kita tidak menyelamatkannya!” pinta nail sambil memohon pada temannya kahfi.
“kau tidak lihat. Keadaan kakakku bagaimana?” teriak bimo pada nail.
“aku tahu!” maka dari itu aku akan mengeluarkan peluru itu dari dalam tubuhnya sebelum kita pergi kesana!” kata nail.
“kak.. aku tak ingin melihat kakak seperti ini!”
“tenang bimo. Turuti saja permintaan teman kakak. Soalnya dia benar jika mereka tak selamat mungkin ayahnya akan menuduh kita sebagai pembunuhnya!” pinta kahfi merintih kesakitan.
Michelle memberhentikan motornya. Ia gelisah mengingat ucapan tio kemarin.
“kamu tahu darimana aku disini? Padahal aku tidak pernah memberitahumu!”
“aku tahu karena aku mengikutimu dari tadi. Kau saja yang tidak sadar bahwa aku mengikutimu!”
“dan kenapa kau mengajakku bersembunyi disini!”
“aku ingin menyelamatkanmu. Aku takut farul menangkapmu dan denger-denger kahfi akan ditembak oleh ian di kampus ya? Gini-gini aku masih punya hati padamu walau kita sudah putus!”
“terus kenapa tadi kau tidak ajak kahfi kesini. Aku takut ucapan kamu tadi menjadi kenyataan. Aku ngak mau kehilangan dia tio!”
“bukankah kau juga menghianati kahfi. Bukankah kau mau membawanya ke ayah tasya. Sama-sama saja dia akan mati benar kan?”
“hmm.. aduh aku juga bingung. Aku juga ngak mau ngelukain dia karena dialah teman penyelamatku. Tetapi, jika aku tidak membawanya adikku akan mati di tangan ayah tasya!” jawab michelle menitikkan air matanya.
“sudah, sudah jangan menangis. Aku akan mencoba menyelamatkan adikmu!” kata tio menenangkan michelle sambil memberikan sapu tangan untuknya.
“aku harus kesana. Kahfi tidak boleh mati. Karena dialah cintaku!” ucap hatinya michelle memutarbalikkan motornya ke kampus.

No comments:

Post a Comment

Suka dalam Diam

Senyumannya masih terbayang dalam fikiranku. Senyum manis yang tersirat ketika ia bertemu denganku. Ketika bersama dengannya jantungku berde...