Monday, April 1, 2019

Goresan Pena Part 11

INGET" disini dulu ada orang yg pernah pengen banget ikut kontribusi di Karisma tp sayang Tuhan berkehendak lain selalu ada amanah lain yg bentrok .... INGET" juga karisma butuh kontribusi kalian SEMANGAT SEMUANYA

Pertama, tak lupa kita harus panjatkan puja dan puji syukur kita, kepada sang kholiq yang telah senantiasa memberikan kita segala kenikmatan, baik nikmat sehat, hidup, merasakan kasih sayang pun disayangi, dan juga rasa belas kasih dari-Nya yang selalu memberikan kesempatan untuk bertobat.

Tak lupa juga shalawat serta salam selalu tercurah limpahkan kepad Rasul kita Muhammad SAW, yang atas jasanya lah kita dapat merasakan indahnya keimanan dan keislaman.

Bismillah, kita mulai yah rekan-rekanku sekalian,

Tentu kita sudah amata sangat sering mendengar dan pasti sering pula mengelu-elukan soal yg namanya "Kesetaraan Gender".
Baik soal pendidikan lah, pekerjaan lah, pemilihan pemimpin lah, hak bicara lah, hak menentukan keputusan dalam organisasi lah, maupun soal strata sosial dalam bermasyarakat.

Mungkin, kebanyakan dari kita selalu menganggap bahwasannya "Kesetaraan Gender" merupakan, kesetaraan dalam segala bentuk apapun dalam hidup ini, yah baik dalam hal yg disebutkan tadi, ataupun hal-hal lainnya.

Baik hak dan kewajibannya, baik perlakuannya dan penentuan jalan yg ingin dia tempuh pun yahh harus sama antar gendernya.
Tetapi nyatanya gak begitu sob, dalam beberapa hal mungkin benar, tapi tak bisa kita menuntut "dalam segala hal" dan itu "keharusan" sama percis semuanya.
Kalo konsepnya seperti itu, menghilang kemana batasan yg selama ini kita jaga supaya kita bisa saling menghargai?

Maka konsep "Kesetaraan Gender" yang sesungguhnya bukanlah penyetaraan ataupun pen sama percisan segala aturan, hak dan kewajiban. Tetapi Konsep "Kesetaraan Gender" yang dimaksid adalah *Keadilan Gender*.

Tergambar perbedaannya?

Yah saya anggap itu tergambar ya.
Tapi akan tetap saya coba jelaskan dengan deskripsi sederhana.
Keadilan Gender merupakan pandangan bahwa semua orang harus mendapatkan "perlakuan" yang "setara" (bukan sama), dan tidak di diskriminasi oleh status gender mereka.

Tapi, tetap tak melepas pandangan atau acuan mereka terhadap kapasitas dari masing-masing gendernya.
Karna tentu masing-masing gender tetap mempunyai kapasitas yang berbeda, tetapi diluar itu cukup banyak hal yang bisa dilakukan bersama dengan konsep keadilan.


"Bila ia merasa mampu dan memang mampu, kenapa tidak?"
Yah pernyataan ini harusnya jadi cambukan bagi orang-orang yang masih menghalang-halangi orang lain untuk mengambil keputusan menambah kapasitas diri, baik dengan menyalonkan diri sebagai pemimpin, menerima amanah/jabatan bahkan untuk melakukan hal yang mungkin dianggap kurang meyakinkan dirinya bisa, karna hanya berdasarkan status gendernya yang ia anggap kurang pas dengan itu semua.

Intinya, jangan karna pemikiran kita yg masih terkotak terhadap statement dan budaya yang mengatakan bahwa "Gendermu tak cocok mempunyai atau melakukan sesuatu hal" atau "Genderku tak boleh dan tak bisa lakukan sesuatu hal" harusnya dibuang sajalah. Jangan tekan dirimu, jangan diskiriminasi dirimu dan orang lain.
Kamu punya hak! Lakukan saja bila kamu rasa mampu dan kamu punya kredibilitas atas dirimu. Ekslplor dirimu, kamu hebat bila bisa keluar dari zona nyaman atau zona masa lalumu yang mengekangmu.
Tetapi liat! Kamu tetap punya aturan.
Dan tetap! Kamu harus pahami dulu kapasitasmu.
Itu yg paling penting!

 Karena, jika masing-masing gender sudah paham kapasitas mereka masing-masing, so pasti mereka gakkan mengusik (menghalangi dan menggunjing) hak gender lain.
Malah akan menciptakan suatu perasaan saling menghargai dan saling melengkapi.
Karna bila masing-masing gender sudah saling mengetahui kapasitasnya, pasti mereka akan mau dan maksimal dalam mengkolaborasikan karya mereka untuk menuntaskan berbagai macam permasalahan di negeri ini, atau bahkan dunia ini.
Paham maksud saya?

 Isue ini sangat penting sahabatku, ini harus kita pahami dengan baik.
Bila kita pahami ini dengan baik, maka isue ini akan menjadi solusi untuk berbagai macam permasalahan. Karna dengan kemaksimalan kapasitas dari masing-masing gender akan menghasilkan kondisi saling mengisi, melengkapi dan mendukung. Sehingga permasalahan akan semakin cepat untuk diselesaikan.
Lain halnya bila kita sebaliknya malah salah dalam menyikapi ini.

Mau tahu contoh pemahan yang salah soal Kesetaraan Gender?
Konsep feminisme itu berbeda denyan kesetaraan gender, para kaum feminisme menggunakan faham kesetaraan gender dan HAM sebagai dasar dari ke'halal'an berbagai macam hal yang mereka lakukan, baik tuntutan dalam berpenampilan dan lain-lain.
Karna konsep kesetaraan gender yang mereka pahami adalah, "persamaan hak sepenuhnya antara kaum laki-laki dan perempuan"

Contohnya, saya pernah membaca statement dari mereka soal, "hak yang sama untuk telanjang dada bagi kaum perempuan". Dasar mereka? Ya HAM dan pemahaman Kesetaraan Gender yg salah itu.
Padahal gak semua perempuan mau untuk begitu kan? Dimana letak norma dan aturannya??

Itu justru malah akan mengganggu hak perempuan yang lain. Padahal konsep  dari Hak adalah, "Hak itu tidak boleh sampai mengusik Hak orang lain."
Dan statement itu, sudah cukup mengusik hak orang lain.

Nah dan terakhir, bila kita malah menolak soal "Kesetaraan Gender" bagaimana?
Maka anda, sudah menjadi seseorang yang mengemansipasi orang lain padahal ia memiliki hak untuk melakukan hal yg kamu anggap dilarang tersebut. Dan padahal juga mungkin, ia memiliki kapasitas yg lebih baik serta akan bermanfaat bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain termasuk dirimu.
Semangat untuk memperjuangkan keadilan Gender.
Selebihnya, mari kita bahas lewat diskusi.

No comments:

Post a Comment

Suka dalam Diam

Senyumannya masih terbayang dalam fikiranku. Senyum manis yang tersirat ketika ia bertemu denganku. Ketika bersama dengannya jantungku berde...