*TERSENYUM DALAM GELAP*
Dalam perjalanan panjang melangkahi dunia ini, kita seringkali dijumpai oleh berbagai macam orang, berbagai macam kisah, dan berbagai macam rasa.
Tulisan ini hanya akan menceritakan satu dari sekian juta kisah di luar sana, yang tidak semua kita tahu, tapi ada.
Namanya Fahri, usianya baru 15 tahun. Tapi ternyata hidup telah menghamtamnya dengan keras.
Keluarga kehilangan kontak bapaknya yang sedang dalam perantauan. Lalu, ibunya meninggal beberapa tahun kemudian.
Ia berusaha untuk tetap bersekolah dengan berjualan es lilin yang ia titipkan di warung-warung dekat rumahnya. Jangankan kaya, masih bisa duduk di bangku sekolah pun adalah suatu kesempatan yang luar biasa baginya.
Ia melangkahi terjal dunia ini sendirian. Tanpa orang tua untuk mengeluh, tanpa orang tua untuk menuntun, tanpa orang tua untuk hanya sekedar berbagi cerita kesehariannya.
Namun, tidak tampak rasa kesal pada wajahnya. Mulutnya lebih sering dia gunakan untuk tersenyum, berdoa, dan mengucap syukur. Hatinya seperti dipenuhi ketawakalan pada Sang Pencipta.
Dan itu hanyalah satu dari sekian juta cerita. Mungkin salah satunya ada di antara kita. Yang kita tidak tahu karena pintarnya mereka menyembunyikan, atau malah saking ikhlas hatinya hingga tidak nampak susah pada dirinya.
Kawan,
Tanpa kita sadari, kita terlalu sering memandang keatas. Larut dalam angan-angan. Namun lupa melihat apa yang sudah kita miliki hari ini.
Kita terlalu sibuk mengeluh, memaki, tidak terima dengan keadaan. Hingga lupa menjaga hati, lalu tidak hadir tawakal pada diri.
------------------
Meskipun hari ini memang masih banyak mimpi - mimpi yang belum tercapai. _Adalah baik untuk selalu mensyukuri setiap hal yang terjadi. Adalah baik untuk mensyukuri apa yang kita miliki_
Sudah bersyukur hari ini?
Mari bersama :
_Syukur setiap hari, syukur dengan hati, apapun yang terjadi_
KAMMI dan Komponen Kehidupan Bangsa
Salam Budaya
Budayakan Salam
Assalaamualaikum Wr. Wb
Selamat malam kawan-kawan semua
Semoga kita masih diberikan nikmat gairah perjuangan hingga hari ini dan hari-hari yang akan datang, aamiin.
Langsung saja,
Bila hari ini kita berbicara tentang sebuah rumah, maka KAMMI bisa kita sepakati sebagai rumah yang cukup representatif dan akamodatif bagi orang - orang yang tertanam di hatinya sebuah cita-cita kejayaan suatu bangsa, ya tentunya dalam hal ini adalah kejayaan Indonesia. Mengapa demikian ? Karena di KAMMI lah kita di proses bagaimana mencintai Indonesia dengan ketulusan dan tanpa kemunafikan.
Tapi apakah rasa cinta saja cukup untuk menjadikan bangsa ini kembali jaya ? Rasanya tidak, rasa cinta saja tidak cukup bila tidak ada manifestasi untuk mewujudkan rasa itu, karena ideologi tanpa aktor aksioma hanya akan berhenti pada ruang-ruang dialektis, kira-kira begitulah seorang Tamsil Linrung menulis dalam bukunya. Lalu apa yang harus di lakukan kita sebagai seorang kader KAMMI dalam mengartikulasikan rasa cinta itu ?
Mari kita sama sama renungkan sebuah kalimat yang termaktub dalam bait visi KAMMI, KAMMI memiliki sebuah visi yang berbunyi "KAMMI adalah wadah perjuangan permanen yang akan melahirkan kader - kader pemimpin dalam upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang Islami". Dalam visi tersebut bisa kita lihat ada dua variabel utama yang ingin di capai oleh organisasi ini, yang pertama adalah KAMMI menjadi wadah perjuangan permanen yang ingin melahirkan kader - kader pemimpin bangsa, dan yang kedua adalah upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang islami.
Apabila kita mencermati dua variabel ini kita akan menemukan dua fungsi besar yang harus di jalankan oleh organisasi ini, fungsi pertama adalah proses pengkaderan dan yang kedua adalah fungsi pergerakan, lalu dari kedua hal tersebutlah karakteristik organisasi ini dibangun. Lalu pertanyaan yang muncul ketika kita membahas persoalan tadi adalah bagaimana KAMMI bisa mewujudkan dua fungsi besar itu ? Tentunya ini adalah pertanyaan yang akan membutuhkan waktu diskursus yang relatif panjang dalam proses pencarian jawabannya, karena ini berkaitan dengan bagaimana kekonsistenan KAMMI dalam merawat cita - citanya.
Tapi ada hal menarik menurut saya bila kita membahas visi KAMMI yang telah tadi kita sama sama renungkan. Bila kita berbicara tentang sebuah wadah perjuangan permanen dalam melahirkan pemimpin bangsa maka KAMMI telah melakukan proses ini, setidaknya melalui alur pengkaderan yang hari ini KAMMI jalankan, dimana akhir dari alur pengkaderan KAMMI tersebut adalah melahirkan seorang manusia yang memiliki karakter muslim negarawan, dan instrumen - instrumen dalam proses pengkaderannya sudah tersedia dengan cukup baik dalam organisasi ini, ya walaupun memang tetap ada beberapa kekurangan yang masih membutuhkan penyempurnaan.
Nah lalu bagaimana mengenai upaya mewujudkan bangsa dan negara Indonesia yang islami ? Tentunya ini pertanyaan yang mungkin sering kita diskusikan di kampus - kampus, daerah, wilayah, atau bahkan di tataran pusat. Bila kita merujuk pada kalimat "bangsa dan negara Indonesia yang islami" maka tentunya sasaran dari gerakan kita adalah semua elemen yang terkandung di dalamnya. Apabila dulu seorang aktivis terkenal dengan ketidak seimbangannya dalam mengelola dunia organisasi dan akademiknya maka hari ini saya katakan seorang aktivis gerakan harus mampu menjadi orang yang menguasi disiplin ilmu yang ia geluti, karena penguasaan disiplin ilmu tersebut akan menjadi satu hal yang sangat penting dalam langkah kita mengisi pos - pos strategis kehidupan berbangsa dan bernegara ini yang kemudian melalui langkah itu kita akan mampu mewujudkan cita - cita besar kita sebagai kader KAMMI.
Selain penguasaan disiplin ilmu, maka langkah lain yang harus di lakukan oleh kader KAMMI dalam mewujudkan cita - cita besarnya itu adalah dengan masuk ke semua komponen kehidupan bangsa yang ada di negara ini, karena dalam penerjemahan mewujudkan bangsa dan negara yang islami ini tidak akan terwujud apabila kita tidak masuk ke elemen tersebut, membawa pengaruh disana, lalu akhirnya kita akan menjadi otaknya.
Namun, terkadang kita sering dihadapkan pada stigma bahwa KAMMI ini adalah organ yang eksklusif dan tidak bisa bergaul dengan dunia luar. Hal itu tentunya harus menjadi sebuah _handicap_ bagi segenap kader KAMMI, betulkah KAMMI seperti itu ? Dan rasa-rasanya kita perlu belajar untuk rendah hati dan sedikit mengakui bahwa stigma tersebut benar adanya. Ya okelah mungkin ada yang tidak menerima saya mengatakan demikian, tidak apa-apa mungkin kita berbeda pandangan.
Memang kita ini terkadang tidak berani untuk masuk ke dunia luar, dimana disanalah pertaruhan kualitas ideologi kita akan terukur. Imunitas pandangan kita tentang suatu nilai akan teruji ketika kita telah dihadapkan pada situasi demikian. Dan kita terkadang masih sedikit gugup menghadapi pergaulan tersebut. Padahal salah satu tugas besar KAMMI adalah bagaimana mencetak manusia yang populis bukan elitis.
Terutama di kedaerahan ya, KAMMI ini harus sudah mulai tampil di hadapan publik. Sentuhan-sentuhan pergaulan dengan dunia luar itu sudah mulai harus dijadikan satu kebiasaan baru dalam organisasi ini. Selain itu, KAMMI pun sudah saatnya menjadi industri terbesar dalam mendistribusikan para kadernya untuk mengisi post-post strategis, misalnya masuk di kepngurusan KNPI, aliansi-aliansi kedaerahan atau tataran lainnya, bersetuhan dengan dunia pers dan masih banyak lagi post strategis lain yang seharusnya bisa di isi oleh KAMMI.
Mengapa hal tersebut penting ? Karena disanalah kita akan menyemai nilai yang selama ini kita yakini. Menanam ideologi yang nanti akan kita panen pada momentum kejayaan itu. Gairah itu harus sudah mulai dibangun di dalam tubuh KAMMI. Ya walaupun saya tidak memiliki data pasti apakah hari ini KAMMI di daerah-daerah sudah terlibat dalam aktivitas itu atau tidak. Ya Alhamdulillah bila memang KAMMI di Daerah atau Komisariat ini sudah mulai masuk ke dalam dunia itu.
Memang ini adalah satu persoalan yang cukup rumit dan diperlukan satu cara berpikir yang harus keluar dari kebiasaan yang selama ini kita jalani.
Karena strategi perang menurut Robert Greene yang ditulis dalam bukunya yang berjudul _33 Strategi Perang_, perang itu membutuhkan kerja otak yang dinamis dan cara berpikir yang strategis, kita tidak bisa menggunakan metode lama dalam peperangan hari ini, gaya kita dalam mengelola situasi ini harus terus di perbaharui. Gairah perang itu harus dimunculkan dalam aktivitas kader KAMMI, karena mau tidak mau pada akhirnya kita akan bertarung dengan musuh kita dalam memperebutkan posisi strategis itu. Namun apakah kita akan menang bila masuk ring tinjunya pun tidak ? KAMMI jangan hanya berani berteriak di dalam tempurungnya saja. Diaspora itu harus sudah mulai dilakukan.
Sekian, itu hanyalah pemantik diskusi kita, dan bahasan tadi belum sampai datail. Mungkin bisa kita elaborasi lebih jauh lagi dalam sesi diskusi.
Ohiya, salah satu filsuf Brazil bernama Dora mengatakan, BERHASIL BERHASIL BERHASIL.
Nama : Hanif Azzuhri
Amanah : Sekjend Kamda Tangsel
Asal Kampus : FISIP UIN
Pertanyaan : sebenernya menurut bang oksa sendiri apa sih alasan kuat yang membuat OKP/organ diluar kammi memandang kammi itu eksklusif ? apakah kiranya alasan itu menyangkut hal yang tsawabit (prinsip) atau mutaghayirat (non-prinsip) bagi kammi?
Ya sebetulnya sederhana sih, kalo ane melihat persoalan ini lebih kepada proses pergaulan kader KAMMI nya itu sendiri. Karena untuk hal-hal yang tsawabit ane pikir setiap organ gerakan apapun pasti punya konsep tsawabit tersebut ( dengan istilah yang berbeda ), nah tinggal bagaimana pengelolaan dari kader KAMMI terhadap hal yang mutaghayyitat tersebut yang kemudian di artikulasikan dalam pergaulannya di masyarakat atau OKP terkait
Pertanyaan Kedua
Nama : Inayatu Sholehah
Amanah : Kabid BPK PD Cilegon
Asal Kampus : FT UNTIRTA
Pertanyaan : Dalam berdiaspora, terkadang aktivis KAMMI pun sudah disibukkan dgn agenda internal dan hanya pada momen tertentu saja bisa berkolaborasi dengan organisasi pergerakan yg lain. Terkadang perbedaan landasan ideologis menjadi alasan utama. Apakah ini menjadi suatu permasalahan dan bagaimana seharusnya bersikap?
Berbicara mencintai Indonesia, saat ini sudah banyak gerakan praktis mahasiswa yg berkumpul dalam forum2 komunitas dsb dalam rangka memecahkan permasalahan yg ada atau membangun kapasitas kepemimpinan pemuda Indonesia.
Menurut analisa antum, bagaimana pola pergerakan mahasiswa Islam kedepan (yg mengusung gerakan ideologis, tidak hanya KAMMI). Apakah masih relevan lalu apakah alasannya? Jika tidak, hambatan apa yg kita miliki sehingga kita harus berubah?
Pertanyaan yang panjang dan menarik
Pertama, terkait kesibukkan di internal ane rasa itu bukan persoalan utamanya, karena setiap organ pun pasti memiliki agenda internalnya masing-masing, namun ana melihatnya ini lebih kepada persoalan pergaulan kader KAMMI di luar aktivitas kelembagaannya bersama KAMMI. Terkait perbedaan ideologis, ana rasa kita harus mulai terbiasa mengelola perbedaan itu lalu mencari win win solution dalam sektor-sektor strategis perjuangan kita.
Soal komunitas, memang ana memandang itu adalah tren yang harus di sikapi dengan baik oleh KAMMI untuk menyesuaikan pola gerakannya. Namun untuk konteks kepemimpinan, ana rasa organisasi model KAMMI ini masih sangat penting untuk dijaga eksistensinya, karena dalam organ seperti KAMMI ini adalah proses pengkaderan yang tersistematis dalam mencetak pemimpin. Tinggal bagaimana pola gerakannya yang harus disesuaikan dengan _public mood_ hari ini
Nama : Ridho Demeswa
Amanah : Sekretaris KP
Asal Kampus : STIE PGRI.
Pertanyaan :
1. Arti diaspora menurut kbbi : masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, temanya adalah diaspora KAMMI jika disesuaikan dengan tema itu berarti masa tercerai berainya KAMMI, maksudnya gimana kak?
2. Kenapa kita terlalu fokus kepada stigma eksklusif itu, kenapa kita tidak fokus pada potensi yang dimiliki? Dan bagaimana jika ada kasus seperti ini:
Seorang kader itu selalu berulang-berulang di bertahu bahwa kita eksklusif, tetapi di sisi lain KAMMI sendiri belum mendidiknya dengan baik dan memberikan pembekalan yang kuat. Dan akhirnya kader itu terbawa dan tergerus arus. Solusinya bagaimana kang?
3. Bagaimana cara meyakinkan diri sendiri dan kader untuk bisa berbaur dengan yang lain? Dalam hal positif maksudnya tanpa harus mengubah perbaikan diri yang kita jalankan.
Ya pertama, coba pahami dulu kata diaspora secara lebih kontekstual dan dari beberapa sumber yang lain.
Kedua, kita tidak fokus terhadap ke-eksklusif-an yang di persepsikan terhadap KAMMI lalu melupkan potensi kita sebagai satu organisasi. Namun disini lebih kepada bagaimana KAMMI bisa mewujudkan visi besarnya, dan visi besar itu akan terwujud apabila KAMMI mampu mendistribusikan kader-kadernya untuk mengisi post strategis di luar lingkungan KAMMI. Dan untuk aktivitas diaspora ini memang harus seiring sejalan dengan alur pengkaderan di KAMMI, makanya di dalam karakteristik organisasi KAMMI, antara harokatuutajnid dan harokatul amal itu tidak bisa di pisahkan
3. Pahami lagi hakikat dakwah, bahwa pada sederhananya dakwah adalah bagaimana kita bisa mengajak orang lain agar bisa merasakan apa yang kita rasakan. Dan jangan sekali kali kita menjadi asing di lingkungan kita yang sebelumnya
Keempat, googling aja, ana rasa itu banyak.
Yang kedua kang, afwan banyak juga yang berbicara setelah DM 2 ada dua kemungkinan : 1. Melejit tinggi
2. Mundur.
Terus penyebab munculnya dua hal ini apa kang?
Karena tadi disebutkan upaya nya harokatut tajnid dan harokatul amal.
Ya antum DM 2 dulu baru akan tau kenapa penyebabnya, karena ini bukan pertanyaan yang akan melahirkan jawaban yang subjektif
Bener kata bang oksa, dm2 dlu nnt antum akan merasakan hehe.. krna tdk bs dipungkiri bahwa, setelah dm2 itu memang akan ada perubahan yg besar dalam diri teman2..
Langsung aja bang @bachtiarcamsyah22 apa tips antum untuk membangun jaringan kepada rekan-rekan organisasi di luar KAMMI
_paragraf 10_
"Tampil di hadapan publik" (dalam artian luas mungkin yaa?
...
Diaspora : penyebaran
Masalahnya; mungkin masih subjektif sih..
Pernah ada diskusi dengan beberapa kader ab1 baru/ aktivis di kampusnya, bagaimana solusinya ketika kader kammi/ organisasi itu sendiri terlalu 'asyik' dengan organisasi di kampus/ apapun itu (diluar lingkungan tempat ia tinggal).. dan ketika kembali ke masyarakat ia seperti 'orang asing' yang 'bau kencur'
Is that problem?
.. gagal berdiaspora?
Atau belom menemukan win-win solution dari permasalahan tsb
Yang harus di bangun adalah struktur berpikir kita, bahwa keberadaan kita di KAMMI ini jangan seperti ikan yang berada di dalam akuarium. Untuk langkah teknis ane rasa kawan - kawan semua lebih tau bagaimana langkah yang tepat sesuai kultur daerahnya. Yang jelas, berpikirlah di luar kebiasaan
Memang itu adalah masa yang akan dilalui oleh aktivis manapun, disibukkan oleh agenda kemahasiswaannya. Namun, ada yang perlu ditanamkan dalam karakter aktivis tersebut ( dalam hal ini adalah aktivis KAMMI ) bahwa tidak ada gerakan tanpa basis massa, maka menjadi populis adalah kewajiban bagi aktivis manapun, jangan kita menjadi manusia yang bermental elitis
Ya kan belum tentu semua OKP mau bergaul sama anak KAMMI terutama karena stigma yang umum itu... nah itu mungkin kalau ada tipsnya supaya orang bisa menerima kita minimal secara person
Coba logikanya di balik, apa mereka yang tidak ingin bergaul dengan kita atau kita yang enggan bergaul dengan mereka ?
Namun, kalo _case_ nya memang mereka tidak mau bergaul dengan kita, coba ketika kita akan mulai bergaul, kita jangan dulu membahas hal-hal yang sifatnya berbeda, tapi ambil topik yang sekiranya itu adalah kepentingan kita dan mereka
Ya alhamdulillah diskusi kita pada malam hari ini sudah selesai. Pada intinya, saya hanya ingin mengajak kawan-kawan semua untuk masuk dalam dialog imajinatif saya dengan kejayaan Indonesia yang selama ini kita cita-citakan. Bahwa, kejayaan itu agak sedikit menjadi hal yang utopis apabila kita tidak segera berbenah dan melakukan evaluasi di usia KAMMI yang akan menginjak 21 tahun ini, bahwa sudahkan KAMMI mengisi ruang-ruang kejayaan itu ? Jangan sampai kita hanya menjadi buaya di kandang sendiri namun menjadi cicak di kandang yang lain. Kemapanan ideologi kita akan diuji apabila kita telah dihadapkan pada heterogenitas nilai dan pemikiran yang berkembang di masyarakat. Maka, berdiaspora untuk menyemai nilai yang kawan-kawan yakini adalah sebuah keharusan, karena itu adalah sebuah upaya untuk terus membangun kerajaan-kerajaan kecil yang kemudian menjadi kerajaan besar, ya kerajaan KAMMI.
Sekian dan terimakasih banyak atas atensinya. Mohon maaf apabila banyak kekurangan dan kesalahan.
Wassalaamualaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah malam ini telah terlaksana nya diskusi Online AKP (Angkatan Kolaborator Perbaikan) 3.0
Mohon maaf apabila terdapat kesalahan baik dari saya sebagai moderator, maupun dari pemateri. Semoga kita belum puas dengan materi yg dihadirkan pada malam hari ini, agar kita kedepan nya terus belajar dan mencari ilmu dimanapun...
Sekian dari saya, selaku moderator malam ini, Wassalamualaikum wr.wb
Bulan April telah tiba, bagaimana amalan puasa kalian gaes??
Yuk puasa sunnah
Dari Sahl bin Sa’ad, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
إِنَّ فِى الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ ، فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di surga ada suatu pintu yang disebut “ar rayyan”[10]. Orang-orang yang berpuasa akan masuk melalui pintu tersebut pada hari kiamat. Selain orang yang berpuasa tidak akan memasukinya. Nanti orang yang berpuasa akan diseru, “Mana orang yang berpuasa?” Lantas mereka pun berdiri, selain mereka tidak akan memasukinya. Jika orang yang berpuasa tersebut telah memasukinya, maka akan tertutup dan setelah itu tidak ada lagi yang memasukinya
#kammi
#kammiunpad
#sepenuhnyaindonesia
#kalenderpuasasunnah
#mediasik
|
|
Wednesday, April 3, 2019
Goresan Pena Part 16
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Suka dalam Diam
Senyumannya masih terbayang dalam fikiranku. Senyum manis yang tersirat ketika ia bertemu denganku. Ketika bersama dengannya jantungku berde...
-
Orang mencari sekedar yang manis Tak mencari rasa pahit Dikala kenangan itu terasa kritis Maka akan dibuang habis Entah.. ...
-
sudah tanggal 20 namun tak ada kabar yang muncul. apakah aku bisa ke turkey? aku tak memiliki apapun hanya Allahlah yang memiliki segalanya....
-
Catatan 26-28 April 2019 Ketika menjadi panitia youth leadership training ini aku mengambil sebuah hikmah yang saat itu aku sedih...
No comments:
Post a Comment