Happy weekend millenials!*
Hmm....kira2 Hari ini kalian sibuk ngapain yohhh?
.
.
_Segudang aktivitas sepekan gak jadi penghalang buat kita tetep bugar asal asupan makanan seimbang,pola aktivitas dan pola stres juga teratur_
Nah, ngomongin tentang gizi seimbang itu ternyata gak melulu tentang makanan loh. *Ternyata aktivitas fisik juga termasuk dalam prinsip gizi seimbang*
♂
♀
Nah, buat kalian yg mau tetep bugar yuk mulai sekarang lakukan aktivitas fisik minimal 30menit dalam sehari dan jangan lupa olahraga
Usul punya usul... berdasarkan riset *olahraga ternyata mampu menurunkan hormon Ghrelin (hormon pemicu rasa lapar)*. Nah jadi, olahraga ini adl salah satu cara yg tepat untuk membantu kalian yg lagi program penurunan berat badan. Biar nggak jadi pemamah biak gaes

*Selain itu olahraga juga mampu menguatkan tulang dan sendi2 kita loh*, tapi gak dengan ke-sendi-rian Mimin guysss
#janbaperwkwk
*Jadi gimna sama temen2 sesaku nih? Kira2 olahraga mampu memperbaiki ke-sendi-rian kalian gak guyss?*
Selamat weekend
🏻
#giziseimbang #aktivitas fisik #gerakanmasyarakathidupsehat
*Sharing Sesaku.id*; Membuka Lembaran Buku dan Menorehkan Tinta Literasi
Minggu, 31 Maret 2019
Bersama Kak Fuad Bawazir
Fuad Bawazir yang lahir di Pontianak, pada tanggal 30 Oktober 1995 adalah putr dari pasangan Bapak H. Ridwan dan Ibu Sutimah. Pendidikan dasarnya ia tempuh di SDN 04 Pontianak Timur. Selanjutnya ia menyelesaikan pendidikan menengahnya di MTS dan MA Darul Ulum 1 Widang, Tuban, Jatim. Dan kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Yogyakarta.
Di Yogyakarta selain sibuk dengan kuliah, ia juga ikut mengaji kalongan di beberapa pesantren Yogyakarta. Sekarang dia bergabung di pesantren Baitul Kilmah. Di pesantren inilah ia mulai serius belajar menulis.
Selama bergabung di pesantren Baitul Kilmah, tulisannya pernah dimuat berbagai media. Seperti Majalah Aulia dan NU Online. Selain itu ia telah menulis beberapa karya diantaranya ; Mata Air Kearifan Ulama Nusantara (2016), Berguru Kepada Kiai Pesantren (2016), Antologi Puisi Selembut Bibir Yang Basah (2017), Sebutir Nasi Yang Tak Ingin Menjomblo (2017), Jalan Dakwah Ukhuwah Islamiyah (2017), Antologi Puisi Tiada Persinggahan Bagi Mataku Selain Dirimu (2018), Dari Pesantren Untuk Nusantara (2018), Hijrah dan Cinta (2018), Agar Kau Dirindukan Surga (2018), 7 Rahasia Santri Sukses (2018), dan karya bersama Ensiklopedia Ulama Nusantara 9 Jilid (2018). Dan sekarang dia lagi menyelesaikan 3 naskah yang masih diproses.
[31/3 20.16] +62 856-4770-0012: Karena temanya ; *Membuka Lembaran Buku dan Menorehkan Tinta Literaesi*
Maka saya coba membuka denga sebaris kata dibawah ini. Selamat menikmati 


_Setiap kata; goresan dari pena adalah cinta dan akan sampai pada hati yang di dipenuhi cinta._
_*Bismillah…*_
Ingatan itu datangnya dari Allah. Segala ilmu semuanya dari Allah dan segala pengalaman dagn kelebihan juga dari Allah. Bahkan kehadiran saya untuk berbagi pengalaman di group ini juga karena Allah yang menginginkan. Lebih tepatnya, karena memang Allah yang mau semua ini ada dan terjadi.
Sebenarnya apa-apa yang akan disampaikan oleh saya adalah hal-hal yang tidak penting dan remeh-temeh menurut kebanyakan manusia. Tapi kita tidak mengetahui; Barangkali hal-hal yang di hadapan manusia tidak penting, namun di sisi Allah sangat begitu penting.
Allah juga yang mengumpulkan kita dalam perkumpulan ini, meski berawal dari ketidakkenalan kemudian saling mengenal. Siapa sangkah dengan perkumpulan dan perkenalan ini, diantara kita saling dipertemukan jodohnya. Mungkin inilah bentuk dari kekuatan silaturahim. Semoga teman-teman yang masih belum ditemukan jodohnya, maka Allah pertemukan dan persatukan melalui group ini.
Terimakasih sebelumnya telah memberi amanah untuk berbagi setetes ilmu, dan terimakasih telah bersedia mendengar dan menyimak apa-apa yang akan saya sampaikan di forum ini. Salam hormat saya dari jauh. Semoga bermanfaat dan barokah. Sukses untuk kita semua. Amin.
[31/3 20.19] +62 856-4770-0012: Saya memulai menulis dari tahun 2016 dan ditahun itu pula saya ikut bergabung di komunitas kepenulisan Baitul Kilmah Yogyakarta, dibawah naungan novelis Nasional Dr Aguk Irawan MN. Bersama teman-teman lainnya saya berproses dari nol. Berawal dari tidak menyukai membaca sampai banyak membeli buku untuk dibaca, meski hanya ditumpul dijejeran rak-rak buku hehhee. Dari yang tidak bisa sama sekali menulis, sampai bisa membuat buku, meskipun isinya hanya deretan kata-kata sampah yang tak memiliki nilai, kata beberapa teman jauh yang suatu hari mengirim pesan melalui email.
Tapi, semua itu memang akan terjadi pada setiap pemula. Semua berawal dari caci-makian, kritikan, dibilang sampah dll, kita harus tegar dan tetap optimis. Sebab, setiap tulisan itu akan menemukan para pembacanya. Begitulah roda kehidupan. Mungkin hari ini tulisan kita jelek, siapa sangkah beberapa tahun kemudian tulisan kita akan dibaca oleh ratusan ribua orang di Nusantara ini. Ingatlah ! Allah selalu memberikan sebuah kejutan-kejutan dari jalan yang tak terduga kepada hambanya.
Sedikit curhat gpp yaaa 
🤭
Untuk buku bacaan, saya rasa setiap buku memiliki kekuatan daya tariknya masing-masing. Tergantung kita, apakah bisa menemukan keindahan didalamnya atau tidak. Setiap orang memiliki genre bacaannya. Ada yang suka novel, ada yang suka puisi, ada yang suka cerpen dll. Jadi untuk menulis buku tentukan dulu genre apa yang mau ditulis, kalau cerpen yang perbanyak baca buku cerpen, kalau novel yaa perbanyak baca novel, kalau esai ya perbanyak membaca buku tentang esai. Karena setiap tulisan yang lahir sangat berpengaruh dari bahan bacaan si penulis.
Adapun latarbelakang saya menulis karena ekonomi. Saya berlatarbelakang dari keluarga yang sederhana. Sejak SMA saya sudah belajar mandiri. Mencukupi kebutuhan sendiri, meskipun terkadang ada orang-orang dekat yang membantu. sampai saat ini pun saya masih mandiri, setia dalam kesendirian wkwkwkw.
Waktu itu saya kuliah semester 2 masuk semester 3, sayangnya saya tidak seberuntung teman-teman lainnya. Saya tidak memiliki cukup uang untuk membayar tagihan semester. Akhirnya saya memutuskan untuk cuti, dan fokus belajar menulis di komunitas Baitul Kilmah.
Selama enam bulan itu saya maksimalkan sebaik mungkin waktunya. Alhamdulillah dalam kurun waktu enam bulan saya sudah menerbitkan tiga karya buku. Dan berikutnya saya menulis tentang buku Ust Abdul Somad, siapa sangkah buku yang ke empat ini Allah tiupkan ruh-ruh kebaikan didalam setiap katanya. Dalam jangka waktu yang tak terduga selama 2 bulan sudah naik cetak 3 kali. Inilah yang saya maksud sebuah kekuatan surprise dari Allah yang tak terduga.
Dari sini akhirnya saya bisa melanjutkan kuliah, membanntu orantua, dan orang-orang yang membutuhkan. Pada akhirnya saya memutuskan untuk selalu menulis. Sudah yaa sampai disini aja curhatnya hehehe. Bentar lagi kita lanjut materi agak serius wkwkw.
Jangan pernah melihat hasilnya, tapi lihatlah prosesnya. Terkadang orang-orang hanya melihat luarnya saja, tapi tidak dengan seberapa besar perjuangan yang telah dilalui. Untuk menulis dan menjadikannya sebuah buku tidak segampang membalikan kedua telapak tangan. Tidak segampang mengucapkan “Aku Mencintai Kamu” setelah itu ditinggalkan hehehe. Semua itu butuh waktu yang lama. Butuh proses yang berdarah-darah bahkan berapi-api. Seperti Nabi Adam yang ingin bertemu dengan Hawa, banyak rintangan yang mereka lalui, banyak air mata yang jatuh ribuan tahun, hingga akhirnya karena kekuatan cinta mereka berdua yang begitu dahsyat Allah mempersatukannya kembali. Kok jadi bahas cinta yaa heheh.
Begitulah roda kehidupan. Terkadang kita juga harus belajar pada Gus Dur (Kiai Abdurrahman Wadid) bahwa untuk bisa menulis yang baik harus berusaha berlapang dada untuk merasakan patah hati dahulu. Jadi patahkan hatimu berkali-kali maka kata-kata indah itu akan berkeliaran di kepalamu bahkan bertengger di setiap kalimat-kalimat tulisanmu. Jadi yang lagi punya pacar minta diputus aja biar bisa menjadi penulis yang handal wkwkwkwk.
Biasakan setiap hari membaca buku 4 atau 10 lembar dan biasakan menulis 1 hari 1 atau 2 paragraf. Mungkin ketika ingin memulainya sulit, tapi ingat sesuatu yang sulit apabila sudah terbiasa akan menjadi pekerjaan yang amat ringan. Saya dulu masih belum begitu padat 5 hari bisa selesai membaca 1 judul buku, terkadang 1 minggu baru selesai. Tapi sekarang karena sambil usaha, minimal 2 minggu satu judul buku selesai. Tapi tergantung bukunya, kalau bukunya bagus 3 hari selesai dibaca hehehe.
Percaya atau tidak, setiap kita sesungguhnya terlahir sebagai penulis. Sebab jauh dalam diri setiap manusia, terdapat jiwa, emosi, dan nalar yang memiliki sifat unik. Ini mengindikasikan bahwa setiap manusia sejatinya seorang penulis. Hanya saja kita mereka memutuskan jalannya masing-masing. Ada yang benar-benar jadi penulis, ada yang jadi penikmat tulisan, dan ada juga yang menepuh dengan jalan hidupnya sendiri. Begitulah kiranya kehidupan ini. Tentu semua jalan itu memang harus ada, sebab inilah yang dinamakan keadilan sesungguhnya, yang diberikan oleh Allah Swt. sebagai warna-warni kehidupan. Tidak bisa dibayangkan, jika semua manusia menjadi penulis; maka tidak ada yang membeli untuk membaca tulisan tersebut. Orang yang menjadikan profesinya sebagai penulis nggak bisa makan dong. Hehehe
Siapa pun kamu, darimana pun asalmu, lahir dalam dan dari lingkungan keluarga apa pun dirimu, berapa banyak uang saku yang ada di kantong celanamu, cantic, tampan, seksi atau bukan? Semua itu kecil dan tidak penting dibicarakan jika kamu bermaksud jadi seorang penulis. Menjadi penulis berarti memilih menjadi sesuatu yang besar. Sebab dunia ini tidak dimulai dari apa pun, kecuali dari sebuah gagasan dan tulisan. Seperti kata Pramodya “Menulis adalah pekerjaan yang abadi” Jadi, usiamu boleh habis, tapi percayalah karyamu akan selalu abadi serupa mata air.
Untuk menjadi seorang penulis, tentunya kita harus berusaha menjadi seorang pembaca yang baik. Kita harus rajin membaca berbagai genre tulisan. Sebab menulis tanpa membaca adalah omong kosong. Karena setiap buku yang lahir dari tangan penulis bermula dari apa yang telah ia baca. Jadi membaca buku adalah sejata untuk menjadi seorang penulis yang handal.
Terkadang kita memiliki keinginan untuk menjadi seorang penulis, tapi itu hanya sebatas keinginan saja tanpa dimulai dengan praktek dan membiasakan. Jika kita mau sedikit berfikir dan berusaha saja “Bahwa sekat tipis yang membatasi antara gagal dan sukses itu hanyalah kemauan yang kuat.” Jadi jika ada orang yang sukses dengan keberhasilan dan pencapaian yang di impikannya, kamu pun memiliki potensi yang sama untuk sukses. Jadikan keberhasilan orang lain sebagai bumbu motivasi, agar lebih kreatif ; sebagai motivasi agar lebih semangat lagi.
Bismillah.
Untuk target saya selalu ada. Selama beberapa bulan ini masih belum ada yg diterbitkan, Insyaallah tahun ini target saya 3/4 buku yang akan diterbitkan. Mohon doanya hehehe.
Jangan berfikiri untuk best seller dulu, berfikirlah bagaimana caranya supaya luka itu bisa disembuhkan 
eeehh maksudnya naskah itu bisa diselesaikan heheh.
Yaa, patah hati dan tersakiti itu juga penting untuk mengolah tulisan yang indah dan bagus. 
🤭
No comments:
Post a Comment