Teringat historis istilah "intelektual profetik" yg pertama kali dicetuskan oleh salah seorang intelektual muslim, ahli filsafat islam dr mesir bernama Muhammad Abduh, yg juga murid dr Jamaludin Al Afghani, dimana beliau terinspirasi dr perjalanan Nabi saw ke sidratul muntaha. Salah satu yg kita ketahui dari peristiwa tsb adalah keputusan Rosul utk memilih kembali lagi ke bumi. Pertanyaannya adalah, kenapa?
Karena rasul masih mikirin ummatnya yg ada di bumi..
Meskipun malaikat menawarkan segala kenikmatannya sama rasul, ketika udah sampe di atas. Rasul gak lupa diri. Rasul masih mikirin ummatnya yang ada di bumi, meskipun dengan turunnya itu rasul harus siap dengan segala resikonya. . Beribu tantangan, cobaan dan pengorbanan menantinya.
Padaku malaikat menawarkan,
”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”
jawabannya ada di surat al imron 110, nanti coba dibuka tafsirnya.
kalo dalam ilmu sosial profetik, para filsuf menjabarkan ada 3 hal : transedensi, liberasi, humanisasi.
lahirnya istilah intelektual profetik jd bantahan total bahwa seorang intelektual gak harus selalu berideologi kiri..
makanya dalam salah satu tafsir intelektual profetik dlm paradigma gerakan kammi adlah : meletakkan nalar wahyu, di atas *segala penjelajahan nalar akal*
sbgmn halnya abu bakr
kader kammi jg tdk dilarang baca buku2 kiri, bahkan kalo bisa habiskan.. tp itu semua hrs tetap dipahami dlm kerangka wahyu kenabian..
m iqbal bukan muhammad abduh
muh abduh pan islamisme
ini ada tulisannya mas nur yg baru di post
Intelektual Profetik
Syaikh Abdul Quddus dari Gangga merenung. Peristiwa Isra' Mi'raj benar-benar diluar kemampuannya, jiwa maupun raga. Kalau aku menjadi Muhammad, katanya, takkan mau aku kembali ke bumi setelah mencapai Arsyi.
Tidak perlu menjadi seorang sufi seperti syaikh Abdul Quddus untuk memiliki perasaan yang sama. Bagi makhluk seperti kita, kebahagiaan apalagi yang melebihi pertemuan kita dengan Allah subhanahuwataala. Itulah puncak kebahagiaan, penghapus segala duka, seolah-olah tiada pernah kita mengalaminya.
Maka perjalanan Isra' Mi'raj adalah perjalanan agung yang akan selalu dikenang ummat manusia. Perjalanan yang dianugerahkan Allah Subhanahuwataala pada kekasih Nya, Rasulullah Muhammad SAW tepat ditahun beliau kehilangan dua orang terdekatnya. Sang paman pelindungnya, Abu Tholib dan Istri tercintanya, Khadijah Al Kubra. 'Amul Huzni, tahun kesedihan.
Buraq, binatang berwarna putih itu, dengan kecepatan tak terkira memperjalankan Rasulullah SAW dari masjidil Haram menuju Baitul Maqdis. Itulah perjalanan Isra'. Dalam perjalanan itu Jibril as memberikan dua pilihan minuman kepada Rasulullah SAW : arak dan susu. Rasulullah memilih susu. Engkau memilih fitrah, kata Jibril as.
Tahap berikutnya adalah perjalanan Rasulullah SAW dari masjidil Aqsa menuju langit, hingga Sidratul Muntaha, titik tertinggi yang bisa dicapai. Itulah perjalanan Mi'raj. Dimana Rasulullah dengan ditemani oleh malaikat Jibril bertemu dengan para anbiya di tujuh pintu langit.
Puncak dari perjalanan tersebut adalah bertemunya Rasulullah SAW dengan Rabb nya. Sebuah pertemuan agung yang peristiwa dan keindahannya tidak terbayangkan. Di peristiwa inilah risalah Shalat diperintahkan.
Rasulullah SAW diperintahkan menyampaikan risalah shalat lima puluh kali sehari semalam. Risalah yang pada akhirnya menjadi lima waktu dalam sehari semalam setelah Rasulullah diberikan saran oleh nabiyullah Musa as agar meminta keringanan dari Allah subhanahuwataala. Setiap shalat Fardu, Firman Allah ta'ala, Aku gandakan sepuluh kali lipat. Sebuah karunia tiada terkira bagi manusia.
Disinilah renungan Syaikh Abdus Salam. Bagaimana Rasulullah menerima risalah tersebut dan kembali ke Bumi. Menyebarkannya kepada manusia, dengan segala peluh dan upaya. Jalan tertatih lagi menanjak. Setelah mencapai puncak dari segala hal. Kebahagiaan tertinggi.
Muhammad Iqbal sang penyair dan filsuf dari Punjab terpekur dengan kata-kata Syaikh Abdus Salam. Dipikirkannya apa yang sebenarnya berlaku. Inikah sebenarnya tugas kenabian? Jika memang demikian maka inilah sebenarnya yang harus kita teladani sebagai manusia. Inilah jalan kenabian, jalan prophetik.
Jalan dimana Nabi ajarkan bahwa risalah harus disebarkan. Dengan perjuangan. Bukan dengan berleha-leha. Jalan menuju Humanisasi, Liberasi dan Transedensi kata pak Kunto, merujuk dari Quran Surah Ali Imran 110. Amar Maruf, Nahi Munkar wa tu'minuna billah.
Maka sesungguhnya inilah intelektual kenabian. Dimana tugas kita sebagai manusia adalah memperjuangkan risalahNya. Menuju manusia seutuhnya. Dari Isra' Mi'raj kita belajar.
kalo pengen tau kompleksitas ramuan filosofi dan syumuliah gerakan kammi, memang harus tau sampe dalem akar historisnya, dan itu yg akan membuat gerakan kita punya nafas panjang sesuai dg mabda dan fikroh nya

No comments:
Post a Comment