Monday, March 25, 2019

Goresan Pena Part 8

Apa itu syakhsiyah?
‬: Istilah Syakhshiyah (kepribadian) dan Syakhshiyah Islamiyah (kepribadian Islam) merupakan istilah baru yang tidak ada dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah. 

Hal itu adalah hal yang lumrah karena tema tersebut merupakan tema baru yang belum pernah ada pada masa Rasulullah SAW, shahabat bahkan pada berabad-abad terwujudnya masyarakat Islam secara nyata.

Namun ketika berbagai produk budaya Barat makin merajalela di berbagai negeri kaum Muslimin saat ini, baik produk-produk materi (al-maadiyah) maupun nilai-nilai (al-afkaar), maka pembahasan tema tersebut menjadi sangat penting dibicarakan dan dibahas.

 Salah satu nilai yang tertanam dalam kehidupan kaum Muslimin saat ini adalah nilai-nilai yang dikembangkan dalam bidang ilmu kejiwaan atau psikologi, antara lain tentang konsep kepribadian manusia yang sangat ditentukan oleh berbagai standar.

 Para ahli Barat banyak membicarakan konsep kepribadian dan nilai-nilai tinggi-rendahnya kepribadian tersebut.

Konsep mereka menyatakan bahwa tinggi rendahnya kepribadian seseorang ditentukan oleh berbagai nilai seperti Nilai-nilai fisik (bentuk tubuh, postur, cara berjalan, bentuk hidung, mata, letak tahi lalat, dsb).

 Nilai-nilai nonfisik (bentuk pakaian, warna kesukaan, makanan-minuman, saat kelahiran, adat istiadat, dsb).

 Nilai-nilai genetik (orang tua pintar, seniman, dsb.)-Nilai-nilai ekternal lainnya (pendidikan, kondisi sosial-politik, dsb.)

: Walhasil, nilai-nilai tersebutpun semakin mempengaruhi kaum Muslimin dalam memandang kemulyaan dan kerendahan nilai kepribadian pada diri seseorang maupun masyarakat.

: Seseorang yang berpakaian ala Barat, santun dalam berkata, rapi, peduli lingkungan, disiplin, pemaaf, tepat waktu, dikatakan berkepribadian baik, menarik dan mulya, meskipun ia biasa mengkonsumsi minuman keras meski tidak sampai mabuk, hidup seatap dengan pasangannya atas dasar suka-sama suka, iapun memakan uang riba dan hasil perjudian (legal maupun tidak), dan ia cukup datang ke tempat-tempat ibadahnya pada saat-saat tertentu saja.

 Berbagai contoh lain tentang hal ini tentu mudah kita dapatkan di masyarakat. Apalagi kini bermunculan ‘sekolah kepribadian’ yang mengajarkan tentang ‘kepribadian baik dan mulya’ sesuai dengan nilai-nilai baik dan mulya menurut para pengajarnya, yakni masyarakat Barat.

 Memahami kondisi seperti inilah maka pemahaman tentang makna ‘kepribadaian’ dan ‘kepribadian Islam’ menjadi sesuatu yang penting, agar kaum Muslimin memiliki sebuah kepribadian yang benar, mulya dan kokoh yang dibangun berdasar nilai-nilai Aqidah Islam sebagaimana kepribadian Rasulullah SAW dan para shahabat yang mulia.

 Siapapun yang mencermati realitas ini dengan baik, akan menemukan bahwa sesungguhnya kepribadian bukanlah dinilai dari nilai-nilai fisik pada diri seseorang (cantik atau tidak, kaya atau miskin, dsb.) juga bukan pada asal daerah, kebiasaan atau keturunannya.

Kepribadian sebenarnya adalah perwujudan dari pola sikap atau pola pikir (yakni bagaimana ia bersikap dan berpikir) dan pola tingkah laku (bagaimana ia bertingkah laku).

: Pola sikap seseorang ditunjukkan dengan sikap, pandangan atau pemikiran yang ada pada dirinya dalam mensikapi atau menanggapi berbagai pandangan dan pemikiran tertentu.

 Pola sikap pada diri seseorang tentu sangat ditentukan oleh ‘nilai paling dasar’ atau ideologi yang diyakininya. Dari pola sikap inilah bisa diketahui bagaimana sikap, pandangan atau pemikiran yang dikembangkan oleh seseorang atau yang digunakannya dalam menanggapi berbagai sikap, pandangan dan pemikiran yang ada di masyarakat sekitarnya.

 Misalnya, seseorang akan mengembangkan suatu ide atau konsep, seperti kebebasan, persamaan dan kesetaraan, bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal tersebut. Begitu pula sebaliknya, bila ideologinya melarang hal seperti itu.

 Sedangkan ‘pola tingkah laku’ adalah perbuatan-perbuatan nyata yang dilakukan seseorang dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya (kebutuhan biologis maupun naluriahnya).

 Pola tingkah laku pada diri seseorang pun sangat ditentukan oleh ‘nilai paling dasar’ atau ideologi yang diyakininya.

Seseorang akan makan-minum apa saja dalam memenuhi kebutuhan biologisnya bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu.

Seseorangpun akan memuaskan naluri seksualnya dengan cara apa saja bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu.

Dan ia pun akan mengatur aturan peribadahannya, tata cara berpakaiannya, tata cara bergaulnya dan berakhlak sesuai dengan keinginannya, bila ideologi yang diyakininya membolehkan hal itu. Begitu pula sebaliknya.

Walhasil, pola sikap dan pola tingkah laku inilah yang menentukan ‘corak’ kepribadian seseorang.

Dan karena pola sikap dan pola tingkah laku ini sangat ditentukan oleh nilai dasar atau ideologi yang diyakininya, maka ‘corak’ kepribadian seseorang memang sangat bergantung kepada ideologi atau aqidah yang dianutnya.

Ideologi atau aqidah kapitalisme akan membentuk masyarakat berkepribadian kapitalisme-liberal.

 Ideologi sosialisme pasti akan membentuk kepribadian sosialisme-komunis.

Sedangkan ideologi atau aqidah Islam seharusnya menjadikan kaum Muslimin yang memeluk dan meyakininya, memiliki berkepribadian Islam.

Dalam bahasa yang lebih praktis, kepribadian (Syakhshiyah) terbentuk dari pola sikap (Aqliyah) dan pola tingkah laku (Nafsiyyah), yang kedua komponen tersebut terpancar dari ideologi (Aqidah) yang khas atau tertentu.

Dari sinilah maka ketika membahas tentang kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah) berarti berbicara tentang sejauh mana seseorang memiliki pola sikap yang Islami (Aqliyyah Islamiyyah) dan sejauh mana ia memiliki pola tingkah laku yang Islami (Nafsiyyah Islamiyyah).

Aqliyyah Islamiyyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila ia memiliki keyakinan yang benar dan kokoh terhadap aqidah Islamiyah dan ia memiliki ilmu-ilmu keIslaman yang cukup untuk bersikap terhadap berbagai ide, pandangan, konsep dan pemikiran yang ada di masyarakat, dimana semua pandangan dan konsep tersebut distandarisasi dengan ilmu dan nilai-nilai Islami.

Sedangkan Nafsiyyah Islamiyyah hanya akan terbentuk dan menjadi kuat bila seseorang menjadikan aturan-aturan Islam dalam memenuhi kebutuhan biologisnya (makan, minum, berpakaian, dsb.), maupun kebutuhan naluriahnya (beribadah, bergaul, bermasyarakat, berketurunan, dsb).

 Jadi, seseorang dikatakan memiliki syakhshiyah Islamiyah, jika ia memiliki aqliyah Islamiyah dan nafsiyah Islamiyah.

Mereka adalah orang-orang yang senantiasa bersikap atau berfikir atas dasar pola berfikir Islami dan orang-orang yang senantiasa memenuhi kebutuhan jasmani dan nalurinya sesuai dengan aturan Islam, tidak mengikuti hawa nafsunya semata. Terlepas apakah ia memiliki syakhshiyah Islamiyah yang kuat atau yang lemah, yang jelas ia telah memiliki syakhshiyah atau kepribadian Islam.

 Hanya saja perlu dipahami disini, bahwa Islam tidak menganjurkan agar umatnya memiliki syakhshiyah Islamiyah sebatas ala kadarnya. Yang dibutuhkan Islam justeru orang-orang yang memiliki syakhshiyah Islamniyah yang kokoh, kuat aqidahnya, tinggi tingkat pemikirannya, tinggi pula tingkat ketaatannya terhadap ajaran Islam.

Alhwat fillah yang dimuliakan Alloh. Demikian sekilas pembahasan awal mengenai Apa Itu Kepribadian Islam (Syakhsiyah Islamiyah)

No comments:

Post a Comment

Suka dalam Diam

Senyumannya masih terbayang dalam fikiranku. Senyum manis yang tersirat ketika ia bertemu denganku. Ketika bersama dengannya jantungku berde...