Thursday, November 15, 2018

Sharing Berpikir Jernih



la tafakkaru fi dzatihi
(janganlah engkau berpikir tentang dzatnya)
hadist ini seharusnya dijadikan pelajaran
apakah sifat tuhan merupakan zatnya?
atau bukan merupakan zatnya
bagaimana tentang manusia yang selalu memperdebatkan oleh kalangan jabariyah, qadariyah, mu'tazilah dan lain-lain?
lantas jika zat itu menjadi persoalan apa sesungguhnya zat itu?
memang kita tahu akal terbatas tapi kita tidak tahu letak keterbatasan akal itu.
terkadang suka berpikir begini
banyak orang yang mengatakan pembaharuan pemikiran islam.
untuk apa islam itu itu diperbarui?
kalau artinya memperbarui islam dengan kemajuan teknologi. itu mungkin sudah ada sejak zaman dahulu kala. mereka yang berpikir itulah yang salah. seharusnya, mereka memperdalam keagamaannya secara lebih mendalam lagi.
pemikiran islam hanya dibatasi dengan pemikiran seperti ibadah semata. padahal, kalau kita kaji lebih mendalam Al-Qur'an dan sunnah menjelaskan dengan keintelektualan yang lebih tinggi. bahkan ada yang  benar-benar mengkajinya hingga ilmu dunia pun dikuasainya. artinya, dengan kata lain sesuatu itu tidak bisa diberikan kemajuan kalau tidak ada penerus yang terus berjuang memperdalam dan bergerak melalui perbuatan

No comments:

Post a Comment

Suka dalam Diam

Senyumannya masih terbayang dalam fikiranku. Senyum manis yang tersirat ketika ia bertemu denganku. Ketika bersama dengannya jantungku berde...